Film, Tak Berkategori

Resensi Film Logan: Goodbye, Wolvie!

“Logan, you still have a time.” – Charles Xavier

Film superhero yang banyak ditunggu oleh penggemarnya akhirnya tayang juga di bioskop. Siapa sih yang nggak tergoda untuk menonton film superhero legendaris satu ini? Bukan hanya karena Wolverine aka Logan sudah banyak dikenal oleh masyarakat sejak lama, tetapi juga karena banyaknya kabar yang beredar tentang film ini dan juga pemerannya. Yep, hype yang begitu tinggi akan film ini tidak bisa lepas dari berbagai pemberitaan yang santer terdengar. Mulai dari pengambilan jalan cerita bahwa film ini akan menceritakan masa tua Logan, sampai berita bahwa Hugh Jackman ini adalah film terakhirnya sebagai Wolverine.

James Mangold, sang penulis naskah dan juga sutradara, mengambil setting cerita di masa mendatang, tepatnya di tahun 2024 di mana Logan sudah menua. Dalam film ini terlihat banget perubahan Logan, mulai dari fisiknya yang sudah beruban dan tidak sekuat dulu, serta kemampuannya untuk menyembuhkan luka pun juga sudah mulai berkurang. Di tahun 2024 ceritanya X-Men sudah punah, yang tersisa hanyalah Logan, Profesor Charles Xavier yang tetap diperankan oleh Patrick Stewart, serta Calaban yang menjadi penjaga Profesor. Di awal cerita memperlihatkan bahwa kehidupan Logan menjadi semakin ‘keras’. Mulai kecanduan alkohol, bahkan kehidupan secara finansialnya pun juga sangat keras sampai membuat Logan jadi sopir Uber Limousine. Mungkin ini juga yang menjadi ciri khas dari setiap film yang diadaptasi dari komik Marvell, yaitu tetap memiliki unsur-unsur yang lucu 😀 Hubungannya dengan Xavier pun juga sedikit berubah, lebih dikarenakan fisik Charles yang sudah jauh lebih buruk dibandingkan dulu. Tapi meskipun begitu Logan tetap merawat Profesor Xavier. Masalah mulai muncul saat Logan ditemui oleh seorang perempuan yang minta pertolongannya, ternyata perempuan itu adalah orang yang merawat Laura, si X-23.

Untuk film yang hype-nya memang sudah tinggi banget bahkan jauh sebelum filmnya tayang, Logan memang patut diberi pujian. Akting para pemainnya sudah nggak usah dipertanyakan lagi, terutama Hugh Jackman ya. Pemeran Laura, si Dafne Keen, pun juara banget walaupun awalnya perannya cuman sebagai mutan ganas yang mute. Pemberian rated R pada film ini memang nggak main-main, karena memang banyak aksi brutal dalam film ini. Banyak darah berceceran dan nggak usah kaget kalau tiba-tiba lihat ada kepala menggelinding di tanah. Action-nya pun juga keren banget. Tapi kalau boleh jujur, meskipun puas dengan film ini, ada sedikit rasa kecewa juga waktu selesai nonton.

Kapan itu ada teman yang tanya opini tentang film ini setelah aku nonton. Aku jawab, “Puas and lil bit dissapointed at the same time.” Tapi waktu itu aku nggak bisa menjelaskan letak kecewanya dimana, karena setelah nonton itu meskipun puas, ada rasa kecewa dan juga ada yang kurang dari film itu. Setelah beberapa hari mencoba mengingat-ingat apa yang membuat film ini terasa kurang, akhirnya menemukan jawaban bahwa yang membuat kurang dari film ini adalah jalan ceritanya. Aku nggak bilang jalan cerita Logan jelek, no, jalan ceritanya bagus. Tapi menurutku kurang complicated. Kalau dibandingkan dengan film-film X-Men atau bahkan X-Men Origins: Wolverine dan The Wolverine sendiri, Logan ini jalan ceritanya agak flat. Nggak banyak kejutan yang ditemui dari film ini. Bahkan plotnya pun maju terus.

Semua orang pasti tahulah bahwa Logan ini film action. Tetapi, film ini adalah film perpisahan Wolverine, heck, film ini pun juga film perpisahannya Hugh Jackman. Yang artinya, film Logan ini akan mempunyai memori yang khusus untuk para penontonnya. Film ini akan menjadi penanda. Tapi meskipun begitu beberapa scene yang begitu penting, begitu memorable, justru rasanya biasa saja. Nggak terkesan wah, padahal semua scene itu perpisahan dan penting. Contoh saja scene terakhir Xavier yang meskipun di situ Logan emosional banget, tapi entah kenapa aku sebagai penonton nggak sampai seemosional itu. Dan ada scene yang seharusnya mengharukan, yang begitu penting, dan kalau misalnya scene ini bisa membekas banget akan jadi keren, yaitu scene waktu Laura akhirnya memanggil Logan dengan Daddy. Suasananya sudah mendukung, dialognya pun juga sudah mendukung, tapi entah karena faktor apa scene ini justru terkesan biasa saja. Logan memang film action, tapi menurutku untuk film pamungkas dan perpisahannya Hugh Jackman sebagai Wolverine, seharusnya ‘rasa’ di film ini juga harus dititik-beratkan.

Jadi, film Logan ini ibaratnya menu makanan favorit yang tiba-tiba ada bumbu yang kurang. Tetap suka, tetap puas, tapi tetap saja terasa bedanya. Tetap nggak menurunkan kadar kecintaan sama Wolverine. Dan ngomongin tentang kecintaan akan Wolverine, aku nggak bisa membayangkan siapa yang mampu menggantikan posisi Hugh Jackman sebagai pemeran Logan seandainya nanti Logan harus muncul di film X-Men ataupun film superhero Marvell lainnya 😦 Hugh Jackman memerankan Wolverine dengan begitu baiknya, sumpah! Dia ini ikonisnya Wolverine 😦

So, yeah. Goodbye, Logan. Goodbye, Hugh Jackman.

P.S: Jangan nungguin post credit film-nya karena nggak akan ada snippet yang muncul.

P.S.S: Ada yang tahu kenapa X-Men bisa jatuh? Apa ada hubungannya sama akhir X-Men: The Last Stand? Atau nantinya akan dijelaskan di film X-Men: Supernova?

Standar
Motion Picture, TV Series

Season Finale Timeless!

“We have to stop trying to fix the past and focus on the present.”

Raisa, iya Raisa penyanyi itu, pernah menulis caption di salah satu postingan Instagramnya bersama dengan Brian McKnight bahwa alasan kenapa dia nggak langsung mengunggah fotonya yang duet bersama Brian waktu itu karena pada saat itu dia pengin sejenak menyimpan kenangan itu untuk dirinya sendiri dan enggan untuk cepat-cepat membagikan memori itu kepada publik. Caption-nya begini, “You guys must be wondering, why it took me so long to upload any picture of my duet, onstage with Brian McKnight. It’s because I wanted that moment to be mine, and no matter how hard I thing of a caption, it can never describe the way I felt that night. Still sureal!”

Aku bukan Raisa (itu sudah jelas banget), tapi aku punya alasan yang sama dengan Raisa kenapa aku nggak cepat-cepat menulis review episode terakhir season pertama Timeless: aku nggak sanggup berkata-kata dan pengin menikmati episode terakhir itu untuk aku sendiri. Sumpah kalau mengingat-ingat episode terakhir itu aku masih senyum-senyum terus balik nonton lagi dan masih nggak bosen sampai sekarang.

Aku harus mulai dari mana untuk menjelaskan ini semua, hm? Well, oke. Akhirnya di episode pamungkas ini terjawab kenapa sih kok Lucy ini kayaknya penting banget untuk Rittenhouse. Posisi Emma pun juga terjawab banget di episode terakhir itu, sebuah twist yang sebenarnya sempat terpikirkan di kali kedua dia muncul di Timeless tapi terlupakan begitu aja. Status Lucy pun juga twist banget di episode terakhir ini.

Oke, sejujurnya, episode enam belas itu lebih berisi banyak twist. Segalanya tentang twist. Latar belakang Lucy, kehidupan Conor Mason, Emma, akhir untuk Flynn, bahkan untuk status Jiya pun rasanya juga mengalami twist. Tapi meskipun banyak twist di dalamnya, nggak bikin bosan sama sekali. Jadi episode ini justru diakhiri dengan sesuatu yang klimaks, yang membuat penontonnya gigit jari karena hanya berhenti sampai di situ dan nggak tahu kapan season 2 muncul. Dan menurutku ending yang seperti itu membuat Timeless season 2 memang pantas untuk ditunggu. Karena ceritanya tetap solid dari awal hingga akhir, yaitu tentang Rittenhouse. Iya, nanti di season 2 kita akan dihadapkan lagi mengenai masalah Rittenhouse and I don’t mind about that, seriously. Sama kayak Pretty Little Liars yang setiap season-nya memang fokus pada pencarian si ‘A’ itu.

Seperti biasa, di setiap akhir episode selalu memunculkan pertanyaan baru buatku.

  1. Setelah segala hal yang dirubah Lucy melalui kakeknya, Ethan Cahill, di masa lampau, terus yang jahat berarti siapa di Rittenhouse?
  2. Apakah proyek time machine ini tercipta karena Lucy membongkar rahasia itu kepada Ethan Cahill di masa lampau?
  3. Kalau Ethan Cahill sudah memenuhi janjinya ke Lucy untuk menjadi double agent dan menghalangi mereka untuk berbuat jahat, terus Emma ini berpihak ke siapa?
  4. Apa ini nantinya akan sedikit fantasi scie-fi? Apa Jiya nanti dengan sendirinya mampu travel time tanpa time machine?
  5.  Adakah kemungkinan Amy, adik Lucy, untuk kembali?
  6.  Apa bener si Jessica, mantan istri Wyatt, itu hanya masalah masa lalu dan dilupakan gitu aja? Atau dia sebenarnya punya peran penting yang disembunyikan?

Harusnya memang nggak ada sesuatu yang sempurna di dunia nyata, tapi bagiku episode terakhir ini sempurna banget. Aku nggak ngertilah cacatnya di mana. Intinya, aku suka banget sama episode ini. DAN YANG PALING PENTING YANG PALING BIKIN JATUH CINTA SAMA EPISODE INI ADALAH ENDING UNTUK LUCY DAN WYATT! Oh, akhirnya! Setelah melalui belasan episode Wyatt sadar juga! Lampu hijau lah untuk hubungan mereka berdua ❤

Sedih juga akhirnya season pertama tamat. Nggak ada yang ditunggu untuk ditonton di hari Selasa. You had me at hello and goodbye, Timeless!

Standar
Motion Picture, TV Series

Resensi Timeless eps. 15

“But, when time are tough, you just got to trust that God has a plan.”

Akhirnya episode dua terakhir dari serial Timeless season satu keluar. Setelah di episode empat belas kemarin dibiarkan penasaran dan nggak sabar menunggu keluarnya episode lima belas, siang tadi akhirnya bisa nonton.

Well, episode lima belas ini menurutku rasanya terlalu singkat banget walaupun durasinya sama seperti episode sebelum-sebelumnya, yaitu sekitar empat puluh dua menit. Di episode kali ini diawali oleh Flynn yang sedang merenung di dalam gereja lalu berdiskusi dengan seorang pendeta. Di Mason Industries masih ada Rufus, Lucy dan Jiya yang kemudian Rufus dan Lucy diberi misi untuk menghapus eksistensi Gracia Flynn dalam kehidupan nyata dengan cara mereka pergi ke kota Houston, Texas di tahun 1962. Membunuh ibu Flynn yang kemudian ditolak mentah-mentah oleh Rufus dan Lucy. Tapi mereka nggak bisa apa-apa, karena perintah ini datangnya langsung dari NSA yang juga merupakan Rittenhouse, mereka malah diancam akan dituntut sebagai seorang teroris kalau nggak mau melaksanakan misi ini. So, yeah, the jumped to Houston.

Dalam misi kali ini Lucy dan Rufus mendapatkan partner baru yang merupakan orang NSA, menggantikan posisi Wyatt. Nah, di akhir episode empat belas kemarin diceritakan bahwa Agent Christopher dan Wyatt Logan mempunyai misi untuk menghancurkan Rittenhouse. Tapi bagaimana? Nah, jawabannya ada di episode ini (ya iyalah, mau di episode mana lagi?). Jadi, menuruti misi NSA itu hanya sebuah kamuflase, karena mereka langsung membius partner baru mereka begitu mendarat di tahun 1962 dan kembali lagi ke tahun 2017 untuk menjemput Wyatt.

Misi awal mereka adalah mengembalikan eksistensi Amy, adiknya si Lucy dulu, baru memikirkan Rittenhouse. Tapi sayangnya begitu misi itu sudah mantap, ternyata Flynn sudah melakukan perjalanan waktu lagi ke tahun 1931. Berangkatlah mereka menyusul si Flynn.

Di episode ini Time Team (Lucy, Wyatt, Rufus) nggak bertemu dengan Flynn. Dan seperti biasanya, Flynn selalu beberapa langkah lebih maju dibandingkan mereka. Mungkin alasan kenapa episode ini rasanya terlalu singkat adalah karena masalah di episode ini kurang seru, menurutku. Flynn  melakukan perjalanan waktu hanya untuk mengetahui secuil rahasia Rittenhouse yang ternyata mengadakan pertemuan selama 25 tahun sekali. Dan Time Team pun nggak berhasil melakukan apa-apa. Mereka kehilangan jejak Flynn, mereka nggak berhasil menyelamatkan tokoh-tokoh dalam sejarah, dan Rufus pun tertembak.

Mungkin ini sama kecewanya dengan Timeless di episode dua belas. Di episode keempat belas ini rasanya terlalu dipanjang-panjangkan supaya dalam season pertama ini memiliki enam belas episode. Ceritanya pun kurang menarik di episode ini, bahkan tadi sampai ketiduran. Terus waktu mengulang nonton lagi jadi merasa, “Oalah, kok cuman sebentar sih? Eh, berarti tadi waktu ketiduran nggak ketinggalan jauh sama ending-nya dong.” Episode lima belas ini rasanya hanya menampilkan tokoh sejarah saja tanpa ada jalan ceritanya. Kayak pengin lari, tapi dipaksa untuk jalan ditempat. Gregetan dan bikin bosan.

Dan tolong dong, jangan buat Wyatt jadi seorang hero. Buat dia tetap seperti Wyatt yang sebelumnya. Di episode empat belas kemarin memang memiliki emosi yang memuncak banget, bahkan beberapa tokoh pun karena emosi itu menjadi berubah sifatnya. Terutama Wyatt, kejadian berat yang menimpanya ini dan itu membuatnya jadi berpikir dan berubah menjadi orang yang logis, baik hati, dan nggak egois. But, seriously? Jangan lah Wyatt dibuat kayak begitu, jadi membosankan. Bahkan Lucy yang sebenarnya mengalami penderitaan lebih berat dibandingkan Wyatt pun nggak berubah-berubah amat sifatnya. Dia tetap menjadi Lucy Preston yang peragu, clumsy, dan cinta dengan sejarah.

Akhir episode yang cliffhanger tapi nggak banget jadi nggak bisa bertanya-tanya lebih banyak untuk episode selanjutnya. Apakah Rufus akan meninggal? Kayaknya nggak, pasti dia hidup. Kalau nggak hidup, siapa yang bakal jadi pilot mereka. Apakah masalah Rittenhouse akan selesai di season pertama ini? We’ll see.

Standar
Buku, Dystopia, Fantasy, Series, Young Adult

Resensi The Rose Society

“Kita memiliki kisah sendiri,” ujarnya lembut. “dan setiap bekas luka membawa ceritanya masing-masing.” – Magiano

Hai, semuanya! Selamat hari libur nasional dadakan ya 🙂

Tapi, tentu saja, postingan ini nggak akan membahas tentang pilkada kok. Postingan kali ini akan membahas tentang buku kedua dari serial The Young Elites yang berjudul The Rose Society. Seperti yang sudah di postingan sebelumnya mengenai buku The Young Elites yang menjadi buku dystopia favorit, buku keduanya pun nggak kalah menariknya dengan buku pertama. Bahkan bisa dibilang kalau lebih suka buku kedua dibandingkan dengan buku pertamanya.

The Rose Society menceritakan tentang perjalanan Adelina Amouteru setelah dirinya keluar dari anggota Belati. Adelina beserta adiknya, Violetta, berkelana menuju Merroutas untuk mencari para Elites lain. Tujuannya adalah Adelina ingin membentuk pasukan/perkumpulan guna menggulingkan Inkuisisi dan juga kerajaan Kenettra. Akibar dari kebenciannya terhadap Inkuisisi dan kerajaan yang membenci para malfeto. Di sana Adelina bertemu dengan Magiano Sang Pencuri dan Sergio Sang Penenun Hujan yang kemudian bergabung dengannya dan Violetta dalam perkumpulan bernama The Rose Society. Berangkatlah mereka menuju Kenettra untuk menjalankan misi.

Di sisi lain, Maeve, Ratu Beldain yang baru, juga memiliki sebuah misi yaitu menjatuhkan kerajaan Kenettra dan menguasainya. Usahanya dibantu dengan para anggota Belati yang mengungsi ke sana setelah kejadian pembunuhan Enzo di Kenettra. Bukan itu saja, Maeve juga berencana untuk menghidupkan Enzo kembali dan menjadikan si Pangeran sebagai bonekanya.

The Rose Society memiliki cerita yang lebih kompleks dan lebih gelap dibandingkan dengan The Young Elites. Selain itu, buku ini juga memiliki tokoh yang lebih banyak, terbukti dengan beberapa bab yang menggunakan sudut pandangan orang ketiga dari Rafaelle, Maeve, dan Teren. Meskipun begitu kompleks dan ada beberapa sudut pandang yang terpecah, nggak akan bingung saat membacanya ataupun bosan, karena penulisan tersebut bukan dimaksudkan untuk mengetahui perasaan dari masing-masing tokohnya, melainkan kita diajak untuk merajut kejadian-kejadian dari tempat-tempat yang berbeda.

Adelina Amouteru yang ada di The Rose Society ini bukanlah Adelina yang sama dengan yang ada di buku sebelumnya. Kalau di buku sebelumnya Adelina terlihat sebagai seorang Elites yang rapuh dan pemalu, di buku ini Adelina justru bertransformasi menjadi seorang badass 😀 Adelina dipenuhi dengan ambisi, percaya dirinya begitu tinggi, dia tidak akan memberikan ampun bagi orang-orang yang menentang langkahnya. Sisi gelap Adelina bangkit di buku ini and I like it. Segala luka yang dimiliki Adelina di masa lalu dijadikannya sebagai kekuatan dan pertahanannya. Membaca buku ini membuat mengikuti emosi Adelina. Dan segala hal yang dilakukan Adelina kerasa banget alasannya. Somehow, I ever felt like Adelina. Sehingga waktu membaca rasanya tokoh Adelina ini relatable denganku. Bukan berarti aku malfeto atau Elites juga ya 😀  Meskipun kalian mungkin nggak pernah merasa seperti Adelina, percayalah, waktu membaca buku ini kalian akan merasa seolah-olah kalian pernah mengalami apa yang dirasakan Adelina. Marie Lu membawa kita untuk masuk ke dalam emosi Adelina yang begitu berat.

Kalau membaca The Rose Society ini hari-hati ya, dia pace-nya nggak cepat, tapi suasana gelap dan kelamnya terasa banget. Di buku ini juga akan banyak tokoh yang mati dan kejadian pembunuhan. Selain itu, buku ini banyak sekali twist-nya. Kalian pasti gregetan lah 😀

Cerita dalam The Rose Society ini memang sangat menarik walaupun alurnya sangat gelap, tetapi nggak ada buku yang sempurna because the prefection is just illusion. Di atas sudah dituliskan bahwa dalam buku ini jumlah tokohnya pun bertambah banyak. Tokoh lamanya ada dan tokoh barunya pun ada dan nggak ada satu pun dari mereka yang nggak penting. Tetapi, mungkin ini memang kelemahan apabila sebuah cerita memiliki banyak tokoh, ada beberapa tokoh yang nggak akan tergambarkan secara mendetail. Contohnya saja Sergio Sang Penenun Hujan. Peran dia begitu penting sejak kali pertama kemunculannya yang membantu Adelina kabur dari Merroutas lalu masuk ke dalam Kenettra, tetapi sayangnya meskipun dia penting bahkan sampai akhir cerita, dia nggak tergambarkan begitu mendetail seperti Magiano Sang Pencuri. Padahal, selain membantu Adelina, Sergio ini juga sama-sama anggota The Rose Society, seperti Magiano juga.

Selain itu, why oh why Marie Lu menghidupkan Enzo lagi? Biarkan ada di Alam Kematian saja, eksistensi kekerenannya sudah digantikan sama Magiano. Membuat si Enzo ini kelihatan useless banget di buku kedua ini. Bisa dibilang sesungguhnya twist yang ini nggak nyenengin banget

Akhir cerita The Rose Society ini membuat jadi bertanya-tanya nanti di buku ketiganya, The Midnight Star, tujuannya akan seperti apa. Karena segala tujuan yang sudah dirajut sejak buku pertama, sebenarnya sudah dijawab di buku kedua ini, tetapi, there is book three.Tapi tetap saja membuat penasaran.

Secara kesuluruhan, aku cinta banget sama The Rose Society ini. Terima kasih Marie Lu yang sudah memberikan tokoh anti-heroin yang keren banget.

Bintangku untuk The Rose Society:

0001


Psst, kalian bakalan mendapatkan tokoh favorit baru di buku ini 😀


Postingan selanjutnya akan membahas tentang episode kelima belas Timeless.

Standar
Motion Picture, TV Series

Review Timeless Eps. 14: It’s All About Rittenhouse

“Rittenhouse isn’t a choice. It’s blood.”

Sebelumnya di episode dua belas aku pernah ngomel-ngomel bahwa alur ceritanya jadi melenceng, tapi akhirnya di episode tiga belas aku bilang bahwa episode tersebut adalah titik baliknya. Di episode dua belas mungkin adalah twist-nya. Tapi, episode tiga belas nggak ada apa-apanya dibandingkan episode ini!

Cerita dimulai dengan Lucy yang masih ngobrol di rumah Benjamin Cahill, ayah biologisnya sekaligus pimpinan Rittenhouse sekarang. Di sana Lucy menentang habis-habisan dan nggak akan menerima kenyataan bahwa dia juga termasuk sebagai bagian Rittenhouse. Benjamin Cahill hanya menerangkan dengan sabar sedangkan Lucy sudah emosi banget. Di episode empat belas ini time machine membawa para time traveler ke 21 Mei 1927, tepatnya di kota Paris. Tentu saja mereka mengikuti Flynn dan Lucy yakin bahwa motif Flynn ke kota itu adalah untuk membunuh Lindbergh yang dijadwalkan akan mendarat. Oh iya, di episode sebelumnya sudah jelas bahwa Wyatt Logan ditangkap, jadinya di episode kali ini posisi Wyatt digantikan oleh ‘Bam-Bam’ yang juga merupakan teman Wyatt di militer.Tentu saja, alasan Flynn menangkap Lindbergh karena Lindbergh adalah anggota Rittenhouse. Selain Lindbergh, tokoh dunia yang muncul di episode ini adalah Ernest Hemingway. Di waktu sekarang, tiba-tiba saja Agent Christopher diberhentikan dari misi ini dan posisinya digantikan oleh orang dari NSA. Sudah jelas kalau Connor Mason sudah nggak mau berurusan dengan Christopher dan dia nggak pengin Rittenhouse ketahuan. Masalahnya adalah Christopher memang sudah tahu tentang Rittenhouse. Oleh karena itu dia pergi menemui Wyatt yang ditahan dan memberikan alat untuk melarikan diri ke cowok itu. Kembali ke tahun 1927 di Paris, Lucy disandera oleh Flynn setelah anak buahnya berhasil membunuh Bam-Bam ( 😦 ). Sebenarnya Flynn ingin mengajak Lucy untuk sama-sama membunuh sanderanya tersebut, tetapi Lucy menolak mencoba membujuk Lindbergh supaya nggak bergabung dengan Rittenhouse. Di saat dia ngobrol dengan Lindbergh, tahulah Lucy kalau keluarga Cahill, keluarga ayah biologisnya, adalah keluarga aristrokat Rittenhouse. Pure blood family. Salah satu keluarga yang dihormati oleh anggota yang lainnya.

Seperti yang aku bilang di atas bahwa episode tiga belas nggak ada apa-apanya dibandingkan episode empat belas ini, karena di episode ini banyak rahasia-rahasia yang mulai terkuat. Seperti posisi keluarga Cahill, Rufus yang tahu bahwa Benjamin Cahill adalah ayah Lucy, Wyatt yang akhirnya sedikit bisa menerima kenyataan bahwa Jessica nggak bisa dihidupkan kembali, dan, ini yang terpenting, akhirnya ketahuan lah bagaimana asal mula Lucy bisa mempunyai jurnal yang sekarang juga dimiliki oleh Flynn. Bedanya, jurnal yang didapatkan Lucy masih baru, sedangkan yang dipegang Flynn sudah penuh dengan catatan perjalanan Lucy. And Agent Christopher bilang kalau ternyata orang-orang NSA yang menyertai misi Mason Industries adalah Rittenhouse. So, yeah, it’s all about Rittenhouse. Selain itu, di episode ini pun emosi setiap anggotanya memuncak. Rufus yang panik karena Jiya masih berada di dalam Mason Industries padahal di sana adalah lautan Rittenhouse. Lucy yang bingung dengan jurnal yang baru dia dapatkan dari ibunya serta marah karena kemungkinan besar dirinya memanglah bagian dari Rittenhouse. Dan Wyatt yang kelihatan banget perubahannya secara emosi. Selama ini Wyatt yang selalu terlihat easy going di antara mereka bertiga, tapi kali ini dia sama sekali nggak ada santai-santainya, ekspresinya pun menggelap, dan sekarang dia jadi yang paling serius di antara mereka bertiga.

Cerita yang bagus adalah cerita yang mampu membuat penikmatnya penasaran, terus menimbulkan tanda tanya, dan nggak sabar untuk mengetahui akhirnya. Timeless pun begitu. Ada pertanyaan yang muncul jauh sebelum episode ini dan ada pula yang muncul karena episode ini.

  1. Apa pentingnya Lucy bagi Rittenhouse dalam misi ini selain karena dia adalah anak dari Benjamin Cahill?
  2. Siapa pembunuh Jessica Logan yang sesungguhnya? Dan kenapa Jessica dibunuh? Karena, kalau nggak salah ingat, Flynn pernah bilang, dan Wyatt pun mengakui, bahwa darah yang ditemukan di TKP pembunuhan Jessica bukanlah darah milik Jessica. Atau ini hanya kebohongan Flynn?
  3. Emma ini ada di posisi mana? Di episode sebelumnya, dia terlihat friendly dengan Anthony yang memang mantan rekan kerjanya. Tetapi sekarang Anthony sudah meninggal dan nggak dijelaskan siapa pembunuhnya dan Emma kelihatan baik-baik saja, berbeda dengan Rufus. Lalu, Emma ini juga kayaknya orangnya nggak suka dengan kontrak yang mengikat. Dia memang masuk timnya Flynn, tapi dia juga nggak patuh sama Flynn. Bahkan waktu dia melihat Rufus dan Hemingway menyelamatkan Lucy dan Lindbergh di catacombe, Emma pun memberi jalan kepada mereka dan nggak ngasih tahu Flynn kalau mereka kabur. Apa jangan-jangan Emma ini adalah anggota Rittenhouse? Habis, dia kayaknya berbahaya banget.
  4. Oke, aku nggak begitu tahu tentang teori time travel ya. Tapi setahuku benda yang sudah diambil dari masa depan dan di bawa di masa sekarang nggak akan bisa berada dalam kurun waktu yang sama dengan benda yang sama persis. Bingung? Gini, jadi kan sekarang Flynn memegang jurnalnya Lucy yang diambil dari masa depan yang sudah banyak isinya, sedangkan sekarang Lucy juga memegang jurnal itu tetapi masih kosong. Memangnya bisa dua benda yang sama tetapi dari waktu berbeda, berada di satu ruang waktu yang sama secara bersamaan?

Well, aku sudah nggak sabar untuk nunggu kelanjutannya di episode minggu depan. Di akhir episode empat belas ini Lucy, Wyatt, Rufus, dan Agent Christopher membentuk tim dan berencana untuk memerangi Rittenhouse. Tapi, mereka kan nggak punya time machine? Lalu Wyatt kan statusnya masih sebagai tahanan (tapi meloloskan diri), jadi bagaimana cara mereka memerangi Rittenhouse?

Kalian ada yang ngikutin Timeless nggak, guys? Menurut kalian gimana?

Semoga review kali ini bermanfaat buat kalian ya 🙂


“Your personal life might be a mess, but you always have the facts.”

Standar
Buku, Dystopia, Fantasy, Young Adult

Review The Young Elites

“Tak seorang pun menginginkanmu menjadi dirimu sendiri. Mereka ingin kau menjadi versi orang yang mereka sukai.”

Jauh sebelum membaca buku ini, novel dystopia pertama yang aku baca adalah Hunger Games, novel yang beberapa lalu, bahkan sampai saat ini, menjadi favorit ribuan manusia. Tapi sayangnya aku hanya mampu membaca buku itu sampai selesai di seri keduanya. Aku nggak sanggup menghabiskan buku ketiganya: Mockingjay. Lalu ada Divergent yang bernasib sama dan ada The Maze Runner yang sampai saat ini aku berusaha untuk menghabiskan buku ketiganya. Dari kejadian yang sudah-sudah, akhirnya aku memutuskan bahwa aku kayaknya memang nggak begitu cocok dengan buku bertema dystopia.

Tapi entah kenapa aku memasukkan The Young Elites ke dalam daftar buku yang harus aku punya dan minggu lalu waktu ke toko buku dan bingung untuk membeli buku apa, aku akhirnya memutuskan untuk membeli buku karangan Marie Lu ini. Hasilnya apakah sama dengan nasibku waktu membaca buku-buku dystopia sebelum ini? Nggak!

The Young Elite bercerita tentang seorang gadis bernama Adelina yang tinggal bersama seorang Ayah yang kejam dan adik perempuan yang disayangi oleh Ayahnya di sebuah kota bernama Dalia, kota kecil yang terletak di sebelah tenggara kepulauan Kenettra. Bertahun-tahun lalu ada sebuah wabah berdarah yang nyaris memusnahkan penduduk negeri. Sebagian meninggal, sebagian selamat, dan sebagian lagi menjadi malfetto. Malfetto adalah orang-orang yang selamat dari wabah berdarah namun salah satu anggota tubuhnya tertandai dengan aneh dan memiliki kekuatan yang aneh. Adelina adalah seorang malfetto yang warna rambutnya berubah menjadi perak dan mata sebelah kirinya hilang, karena dicungkil oleh dokter yang menanganinya dulu guna mempertahankan supaya Adelina tetap hidup. Malfetto selalu dianggap sebagai aib keluarga, begitu juga dengan Adelina. Ayahnya kerap menyiksanya dan pilih kasih terhadapnya. Sampai akhirnya suatu hari Adelina tidak tahan karena dia akan dijual, akhirnya Adelina melarikan diri tetapi Ayahnya tahu dan mengikutinya. Rasa takut dan juga marah membuat kekuatan yang dimiliki Adelina tanpa sadar muncul. Kekuatannya membuat Ayahnya terbunuh dan besoknya dia ditangkap oleh Inkuisisi kerajaan yang menjatuhinya dengan hukuman mati. Saat hari hukuman matinya tiba, tahu-tahu Adelina diselamatkan oleh seseorang yang bisa menciptakan api dari tangannya. Mulai saat itu juga Adelina bergabung dengan si penyelamatnya yang lebih dikenal sebagai Sang Pencabut Nyawa. Dia adalah Enzo, mantan putra mahkota sekaligus pimpinan Dagger Society atau yang lebih dikenal sebagai kelompok Elit Muda.

Sebelumnya, di atas, aku sudah bilang kalau aku memutuskan untuk nggak suka dengan buku dystopia. Tetapi setelah membaca buku ini, aku punya pendapat yang berbeda. Aku suka buku dystopia, tapi yang jenisnya fantasy dan kolosal 😀

Aku bukan hanya menyukai jalan cerita buku seri pertama The Young Elites ini. Aku suka banget dengan tokoh utama di buku ini. Iya, si Adelina Amouteru. Adelina punya beberapa sifat yang mirip dengan heroine di buku-buku yang setipe, tapi aku suka banget dengan Adelina yang punya dark side. Selama ini aku nggak begitu suka dengan buku yang heroine-nya terlihat kuat dan selalu dielu-elukan sama tokoh-tokoh lainnya dan si Adelina nggak begitu. Dia memang kuat, tapi dia juga seorang pembohong, dia pendendam, dia pemarah, pesimis, dan penyendiri. Adelina memiliki kemampuan untuk menciptakan ilusi, tapi dia bukannya langsung jadi master dalam kemampuan tersebut. Dia masih lemah, bahkan banyak yang mengejek kemampuannya. Tapi dia terus belajar. Adelina Amouteru bukanlah jenis heroine yang bakal langsung dielu-elukan sejak pertama penampilannya and I like it.

The Young Elites hampir keseluruhan ditulis menggunakan sudut pandang orang pertama dari Adelina, tetapi ada beberapa bagian yang diceritakan menggunakan sudut pandang orang ketiga melalui Enzo Sang Pencabut Nyawa, Rafaelle Sang Pengirim Pesan, dan Teren Santoro Inspektur Inkuisisi. Tetapi meskipun dengan format yang seperti itu, tetap nggak membuat bingung yang membaca.

Nasib Enzo di akhir yang mengalami perubahan drastis membuatku jadi bertanya-tanya tujuan dari trilogi The Young Elites ini seperti apa. Buku-buku jenis dystopian jelas memiliki tujuan untuk menggulingkan pemerintahan yang sangat menyengsarakan rakyatnya. Tetapi, untuk The Young Elites ini, menggulingkan dari sisi mana? Dan siapa yang berperan? Rasa penasaran itu membuatku jadi nggak sabar untuk cepat-cepat beli The Rose Society dan The Midnight Star.

Kalau ada tokoh yang dari awal nggak aku sukai selain Ayahnya Adelina adalah Teren Santoro. Dia adalah orang paling coward dan cari muka banget. Sedihnya lagi, di akhir, aku jadi berubah nggak suka ke Rafaelle 😦 Kapan ada hero di trilogi ini yang bakalan jadi favoritku selain Enzo?

Kalian sudah ada yang baca buku ini? Bagaimana menurut kalian? Atau jangan-jangan kalian sudah baca sampai Midnight Star? 😀

Standar
Film, Motion Picture, Mystery, Thriller

Review The Girl on the Train: The Movie

“He is a good liar.”

The Girl on the Train merupakan film yang diadaptasi dari novel karangan Paula Hawkins dengan judul yang sama. Film ini menceritakan tentang seorang perempuan bernama Rachel yang mempunyai hobi menaiki kereta dengan rute yang sama dan duduk di bangku yang sama, hanya supaya dia bisa melihat sebuah rumah di pinggir jalan jalur yang dilewati kereta tersebut. Yang membuatnya terobsesi dengan rumah tersebut adalah pemiliknya, sepasang suami istri bernama Meghan dan Scott yang sering ia ‘lihat’ kehidupannya ketika ia berada di dalam kereta. Dan kebetulan rumah sepasang suami istri tersebut tepat bersebelahan dengan rumah yang dulu Rachel tempati bersama mantan suaminya. Rumah lawas Rachel itu masih berpenghuni, isinya adalah mantan suaminya bersama dengan istri baru dan anak mereka. Setiap hari rutinitas Rachel memang hanyalah naik kereta, mengintip kehidupan Meghan dan Scott, melirik rumah lawasnya, dan mabuk. Sampai akhirnya suatu hari ia mendengar berita bahwa Meghan ditemukan tewas di tengah hutan tanpa diketahui siapa pembunuhnya. Mulai saat itulah hari-hari Rachel berubah.

Sebenarnya nonton film ini sudah lama, sudah beberapa bulan yang lalu, tapi setiap kali mencoba untuk nonton selalu stuck di menit yang sama dengan yang sebelumnya. Tapi, karena aku pengen banget menulis review-nya di blog ini, maka aku harus mencoba untuk menyelesaikannya. Dan akhirnya perlu menonton dua kali sampai habis supaya bisa menulis review ini. Versi film ini memakai cara yang sama dengan cara penceritaan versi bukunya, yaitu memakai point of view orang ketiga dari Rachel, Meghan, dan Anna si istri baru. Perbedaannya adalah kalau dibuku setting ceritanya bertempat di London, sedangkan versi film ini mengambil Manhattan sebagai lokasi ceritanya. Lalu apalagi perbedannya? Aku jatuh cinta sama versi bukunya, sedangkan filmnya nggak 😦

Waktu dulu dengar bahwa The Girl on the Train akan digarap sebagai film, aku seneng banget karena aku jatuh cinta sama buku si Paula Hawkins itu. Apalagi ditambah dengan adanya Luke Evans, but lately after I watched this movie, he didn’t make any move for this film. Lalu akhirnya The Girl on the Train ini tayang tapi masih belum bisa nonton sampai akhirnya masa berlakunya di bioskop habis, aku rasanya menyesal banget. Meskipun waktu kemarin-kemarin aku mencari info tentang film ini dan aku lebih sering baca bad reviews-nya, aku tetap pengen nonton film ini. Sampai akhirnya aku nonton dan stuck berkali-kali di menit yang sama dengan sebelumnya, mulailah aku mempercayai bad reviews itu. Tapi akhirnya aku bisa menyelesaikan film ini (yah, meskipun supaya bisa menulis review-nya sendiri sih 😀 )

Agak susah memang buatku untuk membuat review film ini tanpa membandingkannya dengan bukunya. Serius. Aku tahu bahwa di buku alur ceritanya memang lambat dan suram, seperti kondisi London yang selalu mendung, tapi menurutku di filmnya intensitas lambatnya keterlaluan banget. Film ini termasuk dalam kategori misteri-thriller yang ada unsur psycophat-nya, berarti meskipun agak lambat, tapi tetap harus ada gregetnya. Sayangnya sampai akhir aku nggak menemukan kegregetannya dalam film ini. Aku nggak pernah ada masalah sama filmnya yang memang mempunyai alur slow motion, tapi film ini membuatku bosan. Bahkan waktu membaca novelnya aku ikutan jengkel dan penasaran sama pelakunya yang nggak kunjung ketemu dan teriak gemas dengan twist yang diberikan Paula Hawkins, tapi bahkan di film ini aku nggak merasakan twist-nya. Kalau sutradaranya menaruh Luke Evans sebagai pengecoh supaya terasa twist-nya, aku bisa bilang kalau itu gagal total.

Kalian ada yang terganggu nggak sih, guys, kalau nonton film tapi sering sekali kameranya di close up ke bagian wajah? Kalau aku sih terganggu, banget. Dan film ini pun begitu. Mungkin itu caranya untuk menunjukkan mimik Rachel yang sering kali terganggu karena dia memang alcoholic, tapi beneran deh, tanpa di close up seperti itu penontonnya juga sudah bisa melihat dengan jelas ekspresinya Rachel. Di akhir film terdapat perbedaan yang mencolok dengan novelnya, tapi menurutku it doesn’t make a sense.

Kalau ada yang aku sukai dari film ini adalah pemilihan cast-nya. Bukan karena Luke Evans, karena di film ini pun aku sebenarnya agak terganggu dengan peran Scott yang dimaikan Luke Evans dan Luke Evans himself yang menurutku aktingnya nggak se-adorable di The Battle of Five Armies. Emily Blunt menurutku sukses memerankan Rachel yang alcoholic itu, begitu juga dengan pemeran Meghan si Haley Bennet, Anna yang diperankan oleh Rebecca Ferguson, dan Tom si mantan suami yang diperankan oleh Justin Theroux.

Kalian sudah ada yang menonton filmnya? Gimana menurut kalian?

Standar